Informasi Sidoarjo

Mau Mudik ? Awas Tiket Ilegal !

Berbagai persiapan perangkat mudik lebaran tahun ini nampak sudah dilakukan beberapa pihak terkait. Tidak hanya Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Terminal Purabaya Surabaya dan PT. KAI Daops VII Surabaya saja. Ombudsman Jatim pun telah membuka posko pengaduan angkutan mudik lebaran sebagai penyeimbang pelayanan. Meskipun hanya pengguna angkutan secara umum saja yang dapat merasakan baik buruknya pelayanan. Namun, masing – masing pihak berstatement telah siap memberikan pelayanan terbaiknya.

Dari data yang dilansir pihak Ombudsman Perwakilan Jatim, pengaduan terbanyak untuk pelayanan mudik lebaran tahun 2012 adalah masalah kenaikan tarif serta masih banyaknya calo tiket di Terminal Purabaya maupun beberapa stasiun di Surabaya. Bahkan, terlantarnya beberapa penumpang saat mudik ditengarahi akhibat kurangnya persediaan armada pengangkut. Beberapa pengaduan tersebut tidak lepas dari kinerja dan regulasi aturan yang ditetapkan oleh instansi – instansi terkait.

“Untuk Tahun kemarin (2012 : red), pengaduan – pengaduan yang kami terima dari masyarakat harusnya dapat menjadi acuan pihak lain maupun stasiun agar dapat mengantisipasinya lebih dini. Sementara untuk Tahun 2013 ini, silakan bagi masyarakat yang ingin mengadukan pelayanan – pelayanan mudik lebaran yang kurang memuaskan. Kami (Ombudsman : red) siap memfasilitasinya”, papar Agus Widiyarta, Kepala Ombudsman Perwakilan Jatim Senin (29/7).

Kepala Terminal Purabaya Surabaya May Ronald menyatakan, pihaknya telah menyiapkan dua posko pelayanan arus mudik lebaran tahun ini mulai Senin (29/7). Posko tersebut akan diawaki beberapa pihak terkait. Mulai dari pihak terminal, aparat kepolisian, unsur kesehatan serta dinas perhubungan, baik dari Surabaya maupun sidoarjo.

Saat dikonfrontir terkait masih banyaknya calo tiket yang berseragam, Ronald membantahnya. “ Ombudsman pasti salah menilai. Mereka tidak hafal mana itu calo mana itu pencari penumpang. Dan saya tegaskan disini, bahwa yang berseragam tersebut adalah pencari penumpang. Untuk calo saya pastikan tidak akan ada”, tegasnya.

Sedangkan terkait kenaikan tiket seenaknya. Ronald menambahkan, bahwa untuk regulasi aturan harga tiket itu menunggu perintah. ”Intinya, segala sesuatunya akan kami antisipasi. Karena, kami selalu berkaca dari kelemahan tahun kemarin. Evalusi juga selalu kami lakukan sebagai acuan perbaikan pelayanan tahun ini. Sebagai catatan ya mas. Dari tahun ke tahun armada bus yang kami siapkan di H-7 sekitar 800 hingga 900. Sedangkan pada H-3 kami naikkan menjadi 1400. Dan cadangan Bus yang layak juga kami siapkan”, tandasnya.

Senada dengan Humas PT. KAI Daops VII Surabaya Zakaria juga membantah temuan Ombudsman tahun kemarin. Zakaria menyatakan persiapannya untuk menghadapi arus mudik lebaran tahun ini sudah hampir 95%. Mulai dari perbaikan jalur rel, perbaikan gerbong kereta hingga persiapan armada yang hingga hari ini, Senin (29/7) sudah ready 316 armada. Sebagai langkah antisipasi membludaknya penumpang, PT. KAI Daops VII Surabaya akan melakukan apel kesiapan hari Kamis mendatang dengan berbagai unsur instansi terkait.

”Sekarang, untuk pembelian tiket kan semua dengan sistem online mas. Bahkan harus legal dengan menyertakan data diri (KTP). Jadi, saya rasa untuk calo tiket saya pastikan hampir tidak mungkin ada”, Pungkas Zakaria.
sumber: surabayapagi

Sudah Ada Sekitar 20 Perusahaan Yang Diadukan Ke Posko THR Disnakertransduk Jatim

Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan (Disnakertransduk) Jatim mencatat ada 20 perusahaan di Jatim yang diadukan pekerjanya karena masih bermasalah dengan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) kepada pegawainya.

Kepala Disnakertransduk Jatim, Hary Soegiri, di Surabaya, Selasa (30/7)) mengatakan, untuk menindak lanjutin pengaduan tersebut pihaknya sudah menyiapkan petugas khusus untuk melakukan registrasi atau pendataan terhadap semua laporan yang masuk. Disnakertransduk Jatim. Dalam hal ini, telah menyiapkan empat Posko pengaduan THR, yakni Posko induk di kantor Disnakertransduk Jatim Jl Menanggal, di PT Sier, kawasan Mangga Dua dan Jl Margomulyo. “Dari laporan yang masuk, ada pekerjayang datang langsung ke posko, melalui telepon, ataupun melalui email. Semuanya kami terimalaporan itu, dan pastinya ditindaklanjuti tim,” katanya.

Aduan yang dilaporkan, Hary menjelaskan, diantaranya adanya permasalahan internal antara perusahaan dan karyawan. Misalkan saja, karyawan yang kerja baik diberikan THR, sedangkan pekerja yang kinerjanya buruk tidak diberikan THR. “Hal seperti ini juga menjadi bermasalah,” katanya.

Indikasi masalah lainnya, lanjutnya, seperti penyorotan pemantauan intensif terhadap perusahaan yang ditengarai mencoba untuk menghentikan karyawan dalam upayanya menghindari pemberian THR. Indikasi laporan tersebut terbanyak di antaranya terdapat di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Misalkan jelang Ramadan, atau jelang berikan THR, ternyata perusahaan memberhentikan pekerjanya.

“Itu tidak boleh. Tim akan terus memantau ketat, jika ketahuan melanggar aturan atau norma kerja, makatim yang turun terdiri dari satgas pengawasan THR juga satgas pengawasan norma kerja. Kaitan dengan perusahaan wajib memberikan THR,” paparnya.

Hary mengharapkan, seluruh perusahaan yang ada di Jatim memberikan THR pada karyawannya sesuai dengan SE Gubernur dan SE Menakertrans RI. “Kami harapkan, tahun ini lebih kondusif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, semua perusahaan harus segera membayarkan THR kepada para pekerja selambat-lambatnya pada H-7 Lebaran yang jatuh pada 1 Agustus mendatang,” tuturnya.
sumber: suarakawan

Sirene Peringatan Dini Beberapa Pintu Perlintasan KA Di Sidoarjo Banyak Yang Tidak Berfungsi

Early Warning System (EWS) atau
Sirene peringatan dini yang dipasang di beberapa pintu perlintasan Kereta Api (KA) di Sidoarjo sudah banyak yang tidak berfungsi sehingga mengancam nyawa pengguna jalan.

Lokasi EWS yang tidak berfungsi terlihat di Desa Gelam, Kecamatan Candi. KA saat melintas sirene yang dipasang tidak berbunyi, padahal alat tersebut dipasang untuk menghentikan pengendara yang tengah melintas. Di perlintasan Gelam yang tidak dijaga relawan sudah menewaskan dua orang saat melintas yakni pensiunan sipir dan salah seorang yang akan bertamu ke rumah temannya di Gelam.

Menurut Dadang, warga sekitar EWS itu terkadang berbunyi sendiri, padahal tidak ada KA lewat. Seringnya EWS konslet, warga sekitar akhirnya tidak menghiraukan dan EWS dianggap awu-awu saja. “Kalau KA paas melintas sirine tidak berbunyi. Sampeyan kan sudah lihat sendiri saat KA melintas berbunyi atau tidak,” kata Dadang.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Sidoarjo, Sungkono, korban kecelakaan yang disebabkan dari kerusakan alat adalah masyarakat Sidoarjo. EWS yang setiap unitnya berharga ratusan juta dipasang di pelintasan yang tidak memiliki pos penjagaan. Fungsi EWS sendiri diharapkan bisa menggantikan posisi penjaga pos, karena bisa memberikan sinyal berupa sirene saat KA berada di radius 1 km dari titik EWS.

“Fasilitas ini harus dilakukan uji kelayakan dengan uji coba yang matang karena menyangkut nyawa manusia. Bila alat ini sampai salah mengirimkan sinyal, maka warga menjadi korbannya. Secanggih apapun alat itu harus dilakukan kaji ulang terus menerus di lokasi di mana alat itu dipasang,” tandas Sungkono, Senin (29/7/2013).

Politisi PAN ini mengaskan, jangan sampai menari di atas risiko kehilangan nyawa manusia. Di kawasan Candi, diakui banyak pelintasan kereta tanpa pos penjagaan. Pelintasan itu dibiarkan menganga dan sudah banyak terjadi kecelakaan yang menelan nyawa manusia.
sumber: Tribunnews

Pemkab Jamin Stok Daging Untuk Sebelum & Sesudah Lebaran di Sidoarjo Aman

Pasokan lebaran jelang dan usai Lebaran untuk wilayah Sidoarjo dipastikan aman.

Setidaknya Pemkab Sidoarjo menjamin kebutuhan daging warga Sidoarjo bisa terpenuhi.

Namun, untuk harga di pasaran, Pemkab tidak bisa menentukan karena hal itu tergantung harga yang berlaku dipasaran.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan, Ir Handajani, mengakui jika permintaan daging mendekati lebaran ini sangat tinggi.

“Biasanya saudara atau keluarga dari luar kota berkumpul menjadi satu dan tentunya daging yang paling mudah untuk dikonsumsi,” tutur Handajani kepada SURYA Online, Selasa (30/7/2013).

Menurut Handajani, kenaikan permintaan daging itu terlihat dari beberapa Rumah Potong Hewan (RPH) milik Pemkab Sidoarjo.

Misalnya di RPH Krian yang biasanya memotong 100 ekor kini memotong sampai 120 ekor.

Begitu pula RPH Taman dan Prambon juga mengalami kenaikan hingga 10 ekor.

“Kenaikan yang ada itu sebagai respons permintaan yang banyak dari pasar,” jelasnya.

Sedangkan harga daging kualitas bagus di pasaran Sidoarjo Rp 80.000/kg.

Harga yang ada ini sudah sedikit menurun sekitar Rp 20.000, karena pada pertengahan Ramadhan kemarin harga daging super mencapai Rp 100.000/kg.
sumber: Tribunnews

Bagi Hasil Pengelolaan Terminal Purabaya Kembali Deadlock, Surabaya Tantang Sidoarjo Datangkan Tim Audit

Pembahasan terkait bagi hasil pengelolaan Terminal Purabaya antara Surabaya-Sidoarjo kembali Deadlock. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo tetap meminta bagi hasil (sharing) Terminal Purabaya secara bruto (kotor), sementara Pemerinta Kota (Pemkot) Surabaya menolaknya.

Sikap Sidoarjo menuai reakasi keras dari sejumlah pejabat teras di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot). Salah satunya M Taswin, Asisten II (Kesra) Sekkota. Dia mengatakan, kengototan Pemkab Sidoarjo itu perlu dipertanyakan. Terutama terkait dasar hukum yang digunakannya.

Semestinya, kata dia, jika memang Sidoarjo tidak terima dengan bagian yang diterima selama ini, dia bisa mengirimkan tim audit. “Saya pastikan, di belahan dunia manapun tidak akan ditemui bagi hasil dilakukan secara bruto,” tegas M. Taswin.

Kalau tidak percaya, katanya, Sidoarjo bisa kirimkan tim audit ke Surabaya. Apalagi, berdasarkan hasil konsultasi yang dilakukan Pemkot dengan salah seorang tenaga ahli dari Universitas Airlangga (Unair), secara tegas dinyatakan, bagi hasil bruto itu tidak diperbolehkan. Karena, telah melanggar sistem administrasi.

Berdasarkan penjelasan yang diberikan pakar pada Pemkot, tambah dia, seharusnya pendapatan yang dihasilkan dikurangi terlebih dahulu untuk biaya operasional. Setelah itu, keuntungan yang didapat baru dibagi oleh kedua belah pihak. “Kalau sekarang, saya melihatnya awur-awuran. Coba ditanya apa dasar Pemkab Sidoarjo meminta bagian bruto seperti sekarang,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia berharap agar Pemkab Sidoarjo dan Pemkot Surtabaya, kembali dipertemukan ulang. Dengan harapan, keputusan yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut dapat menguntungkan ke dua belah pihak. “Biar tidak ada saling curiga dan transparan. Saya berharap ada pertemuan lanjutan,” harap pria yang juga merangkap sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Asisten II Bidang Pembangunan ini.

Sementara itu, Sekretaris Kota (Sekkota) Surabaya, Hendro Gunawan menyatakan, sebenarnya Pemkot tidak pernah dirugikan dalam bagi hasil Terminal Purabaya. Meski demikian, dengan permintaan pembagian hasil secara bruto itu yang membuat Pemkot keberatan.

Hendro Gunawan menegaskan, sebenarnya konsep bagi hasil Terminal Purabaya telah selesai dibuat oleh Pemkot. Namun, tiba-tiba ada permintaan koreksi yang diajukan Pemkab Sidoarjo. Diantaranya, beberapa pasal yang dianggap kurang tepat. “Pasal yang minta direvisi ada banyak. Tapi, dalam setiap pasal hanya sedikit-sedikit yang diminta untuk diperbaiki,” ungkap Hendro Gunawan.

Menurut Hendro Gunawan, salah satu jalan terbaik yang dapat ditempuh kedua belah pihak dalam sharing terminal Bungurasih, adalah dengan melakukan penghitungan secara bersama-sama. Sebab jika masing-masing pihak masih bersikukuh pada hasil hitungan yang dibuatnya, maka akan sulit ditemukan titik temu.

“Kita akan minta agar dihitung ulang. Dengan cara itu, saya berharap akan diketahui kira-kira apa win-win solution bagi ke dua daerah,” tandasnya.

Dalam mekanisme penghitungan bagi hasil Terminal Purabaya, menurutnya ada banyak aspek yang perlu diperhitungan. Misalnya, jumlah karyawan, biaya kebersihan, penghasilan dari parkir serta retribusi lainya. Dari sana, baru bisa dihitung berapa cost dan penghasilan yang diperoleh.

“Kalau kita, jelas meminta yang terbaik. Baik untuk Kota Surabaya maupun Kabupaten Sidoarjo. Tapi, apa yang terbaik bagi Pekot Surabaya belum tentu baik bagi Pemkab Sidoarjo,” terangnya.

Atas kondisi itu membuat kalangan DPRD Surabaya prihatin. Dewan berharap kedua belah pihak tetap memcahkan persoalan bagi hasil pengelolaan Purabaya dengan kepala dingin, sehingga menuai hasil yang baik. Namun, tampaknya keduanya masih memilik pendapat berbeda, sehingga hingga detik ini belum ada titik temunya alias deadlock. “Yang kami ketahui seperti itu, komunikasinya buntu lagi alias deadlock,” ungkap Ketua DPRD Surabaya, Moch. Machmud, Senin (29/7).
sumber: surabayapost

Balapan Liar di Bekas Tol Gempol Jabon Sidoarjo Dirazia, Sebanyak 100 Motor Pretelan Ditahan

Bekas jalan tol Gempol memang sudah lama menjadi arena kumpul para pengguna motor. Minggu pagi menjadi ajang rutin para pecinta motor untuk mangkal. Tak jarang mereka juga balapan motor. Jalan yang sepi serta banyaknya pengunjung membuat para pembalap liar yang biasa disebut kuda liar menjadi lebih banyak nyali. Namun, ratusan muda-mudi yang mangkal di bekas jalan tol Gempol, Kecamatan Jabon panik, kemarin (28/7) pagi. Secara dadakan, puluhan polisi dari Satlantas Polres Sidoarjo melakukan razia balap liar di kawasan ini. Para pengguna motor langsung semburat. Sekitar 100 motor akhirnya terjaring dalam razia yang yang dilaksanakan sekitar satu jam ini. “Awas tangkapan,” ujar salah satu pengguna motor Vega yang mempreteli motornya tanpa menggunakan spion dan knalpot standar. Sejumlah motor balap juga terlihat langsung digeber oleh pemiliknya. Tanpa menggunakan helm, pengguna motor berupaya menghindari polisi. Tapi apa mau dikata, polisi lebih siap. “Ampun, Pak. Saya mau lewat saja,” ujar Zainal, pengendara Honda Mega Pro. Kasat Lantas Polres Sidoarjo, AKP Tommy Ferdian mengatakan, razia balap liar ini merespons laporan warga. Banyak yang memanfaatkan nongkrongnya anak muda di jalan bekas tol Gempol ini untuk balapan. “Ini sangat membahayakan dan harus ditertibkan,” ujarnya. Dia mengungkapkan, 100 motor yang terkena razia rata-rata pemiliknya tidak bisa menunjukkan STNK. Motor itu kemudian ditahan. Sedang motor yang tidak lengkap namun masih membawa STNK ditilang. “Mereka boleh mengambil motornya kembali jika nantinya motornya sudah dikembalikan secara normal,” kata perwira asal Ketapang, Kalimantan Timur ini. Kapolsek Jabon AKP Heri Dwi Sukiswanto mengatakan, pihaknya akan melakukan patroli secara rutin pada kawasan tersebut. Jika tertangkap melakukan balap liar memang akan langsung ditindak. “Kita juga akan tilang jika tidak melengkapi motor sesuai standar,” tegasnya.

Pasar Rakyat Lingkar Barat Gading Fajar Sidoarjo Jadi Pilihan Belanja Lebaran & Ngabuburit

Salah satu kegiatan rutin jelang lebaran adalah belanja baju baru. Semakin mendekati Hari Raya Idul Fitri, pusat perbelanjaan makin ramai dikunjungi. Namun belanja baju ini tidak harus di mal. Jika ingin mencari harga yang lebih bersahabat, ada banyak alternatif lain, seperti membeli baju pada pedagang yang mendirikan stan dadakan di pingirpinggir jalan.

Salah satunya di pasar tumpah di Jalan Lingkar Barat (JLB) Gading Fajar. Di pasar yang biasanya buka Sabtu malam hingga Minggu pukul 11.00 ini, dapat ditemui berbagai macam penjual baju dengan harga yang lebih terjangkau. Ada yang harga Rp 75 ribu, tetapi ada pula yang Rp 200 ribu. Farida, salah satu pembeli kemarin (28/7) tampak belanja. Ia punya alasan sendiri mencari baju di pinggiran jalan. “Kalau di sini harga lebih murah dan masih boleh ditawar,” ungkapnya. Senada dengan Farida, Sadiyah warga Japanan, Pasuruan. “Sambil belanja sekaligus berolahraga dengan suami dan anak-anak,” kata Sadiyah. Karena memiliki pelanggan tersendiri, beberapa pedagang juga meraup keuntungan besar. Menurut salah seorang penjual baju, Herwan Riodik, menjelang lebaran ini, sehari ia mampu meraup keuntungan hingga Rp 1 juta. “Kalau hari biasa sih cuman Rp 300 ribu,” kata Herwan. Sedangkan Lilis Widayanti, meraih laba hingga Rp 2 juta. “Kalau saya bisanya sehari dapat sekitar 700 ribu,” tutur warga Gading Fajar ini.

Mulai H-4 Hingga H+1 Truk Dilarang Melintas Jalan Protokol Sidoarjo

Seperti tahun-tahun sebelumnya, menghindari kemacetan lalu lintas saat leberan, truk dilarang beroperasi. Nantinya sejak H-4 hingga H+1, truk bermuatan tanpa izin dilarang melintas di jalan protokol Sidoarjo. Polisi akan menindak para sopir truk jika dalam jangka waktu tersebut masih ada sopir yang melanggar. Satlantas Polres Sidoarjo juga akan menyiagakan personelnya pada titik jalan ptotokol serta rawan macet. Kasatlantas Polres Sidoarjo AKP Tommy Ferdian mengatakan, hanya ada sejumlah truk tertentu yang boleh melintas saat lebaran. Di antaranya, truk bermuatan sembako, truk BBM dan truk yang memiliki rekomendasi atau surat izin tertentu. “Selain truk tanpa izin akan kita tilang,” ucapnya. Aturan itu dijalankan untuk mengurangi kemacetan yang salah satunya disebabkan oleh kendaraan truk. Jalur mudik yang biasa digunakan oleh pengguna jalan harus steril dari truk mulai H-4 hingga H+1.
Dia mengungkapkan, terkait dengan jadwal pelarangan truk bermuatan yang tidak boleh melintas itu, pihaknya akan melakukan sosialisasi pada sejumlah perusahaan di Kota Delta. Tujuannya agar tidak ada truk yang beroperasi sesuai jadwal yang telah dilarang. “Jika ada truk luar Sidoarjo yang melintas tetap akan kita tilang karena mereka juga telah diimbau oleh pihak berwenang di kawasannya,” pungkasnya. Tommy menegaskan jalan protokol hanya akan digunakan untuk bus, mobil pribadi dan motor. “Kelancaran arus lalu lintas menjadi utama,” terang mantan Sekretaris Pribadi Kapolri ini. Untuk wilayah Sidoarjo, kata Tommy, ada sejumlah titik jalan yang memang perlu diwaspadai tingkat kemacetannya. Di antaranya, Jl Raya Porong dan arteri serta kawasan Raya Taman hingga Balongbendo dan Tarik. Akses jalan nasional tersebut memang rawan kemacetan jika pengguna jalan bersama-sama melintas.

Diikuti 21 Peserta Dari Berbagai Wilayah Di Sidoarjo, Lomba Musik Patrol Piala Bupati Berlangsung Meriah

Untuk menjaga kelestarian kesenaian tradisional, Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) bersama Paguyuban Musik Patrol dan Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Sidoarjo menggelar lomba musik patrol, Sabtu (27/ 7 malam. Acara yang digelar di halaman kantor Disporabudpar ini menyedot perhatian ribuan masyarakat hingga membuat kemacetan di Jaksa Agung Suprapto. Suasana tambah meriah karena setiap grup patrol yang tampil membawa serta suporter. 21 grup yang berasal dari seluruh wilayah Sidoarjo mengikuti lomba patrol ini. Wakil Ketua Dekesda Djoko Supriyadi menyatakan lomba ini merupakan acara tahunan yang diadakan setiap Ramadan. “Hingga tahun ini pelaksanaannya sudah sepuluh kali,” ujarnya. Ada perkembangan yang siginifikan setiap tahun. Salah satunya adalah jenis music yang dimainkan yang mulai beragam. Peserta sudah banyak memasukkan kolaborasi irama waltz, jazz, serta rock, sehingga music patrol tidak melulu harus dangdut. Ketukan pukulan yang digunakan juga tidak hanya 3/4 lagi tapi merambah ke 4/4 dan 6/6.
Kostum yang digunakan oleh peserta juga menarik perhatian penonton. Tak jarang penonton dibuat tertawa terpingkal-pingkal. Seperti yang dikenakan oleh grup patrol Putu Lombok. Grup yang berasal dari Sedati itu tampil dengan dandanan unik yakni menggunakan daster dan kerudung. Selain itu ada anak kecil yang berjoget layaknya dirijen mengikuti irama musik. Djoko Supriyadi mengatakan selain kostum ada beberapa kriteria penilaian lomba. “Di antaranya teknik permainan, musik yang dibawakan, koreografi dan dukungan supporter,” ungkap dia. Djoko menambahkan kesenian ini sebenarnya terdapat di beberapa wilayah, namun Sidoarjo mempunyai ciri khas sendiri yaitu di alat musik yang digunakan. Dalam lomba ini, ada dua alat wajib yaitu kentongan dan gentong tempat penyimpanan ikan yang lazim disebut Daiwa yang harus disertakan. Kepala dinas Disporabudpar, Pramu Sigit Prihandono yang menyaksikan perlombaan menyambut baik kegiatan ini. Dia berharap musik patrol bias terus berkembang. “Ini bisa menjadi daya tarik wisatawan asing maupun domestik untuk berkunjung ke Sidoarjo,” ungkapnya.

Inilah Jenis Olahraga Yang Cocok Dilakukan Saat Berpuasa

Seringkali ketika berpuasa seseorang menjadi malas berolahraga atau sekedar menggerakan tubuh dengan alasan menghemat energi atau mencegah rasa lelah dan haus. Padahal olaraga tetap harus dilakukan agar tubuh tetap bugar.

“Seringkali kita merasa telalu lemas dan tak bertenaga untuk
beraktivitas, apalagi aktivitas sehat seperti olahraga,” kata Dokter Spesialis Ahli Gizi Klinis Dr. Fiastuti Witjaksono SpGK di Jakarta, baru-baru ini.

Padahal, lanjutnya, olaraga akan mengubah cadangan lemak dalam tubuh menjadi glukosa yang merupakan sumber energi. Dengan kadar gula yang meningkat aktivitas sehari-hari dapat tetap dilakukan dengan maksimal

“Rasa kantuk yang sering timbul saat berpuasa akan hilang, dan tubuh semakin terasa segar,” sambung dokter Fiastuti.

Agar tubuh tetap segar dan tak mudah lelah, bentuk olahraga perlu diperhatikan. Dokter Fiastuti memberi catatan, sebaiknya pilih olahraga yang ringan. Selain itu intensitas dan pemilihan waktu untuk berolaraga juga sangat penting.

“Olah raga jangan dilakukan setelah sahur, sebaiknya dilakukan disekitar waktu setelah berbuka berbuka puasa. Sementara pilih olahraga ringan seperti yoga, berjalan ataupun jalan cepat, jogging, bersepeda, atau gerakan peregangan tubuh saat kita berada di tempat kerja,” jelas dr. Fiastuti.

Page 173 of 392« First...102030...171172173174175...180190200...Last »

Arsip Berita

March 2015
M T W T F S S
« Feb    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Subscribe

ingin mengikuti berita dari kami?

Arekpulsa.com

Twitter @infosda

Instagram

Prakiraan Cuaca

Current conditions for Sidoarjo as of Sat, 28 Mar 2015 3:31 pm WIT

Partly Cloudy

31°

High: 32° Low: 24°

Partly Cloudy

Feels like: 31 °C

Barometer: 982.05 mb and steady

Humidity: 66%

Visibility: 9.99 km

Dewpoint: 24 °C

Wind: 19.31 km/h

Sunrise: 5:31 am

Sunset: 5:37 pm

Powered by Yahoo! Weather

Jadwal Adzan Sidoarjo

Waktu sholat untuk Sidoarjo, Indonesia.

Kurs Mata Uang Asing

Download Android Apps


versi: 1.0
min OS: 4.1 Jelly Bean+