Informasi Sidoarjo

BERITA

Warga Desa Ketapang Tanggulangin-Sidoarjo Kompak Tolak Jual Rumah demi Menjaga Warisan Leluhur

Bencana lumpur Lapindo membuat warga yang tinggal di sekitar pusat semburan ramai-ramai menjual lahan dan rumahnya. Namun, tidak demikian dengan sebagian warga Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin. Mereka memutuskan tetap tinggal di desa tersebut demi mempertahankan warisan leluhur agar tidak punah.

JALAN arteri Porong di Desa Ketapang kemarin (10/3) tidak bisa dilalui kendaraan dari dua arah. Sebab, lajur tersebut dipakai pentas pertunjukan reog. Dua singo barong tampak beraksi dengan berputar-putar serta menggendong pengunjung.

Tontonan gratis itu membuat puluhan orang berbondong-bondong datang. Pertunjukan reog itu merupakan rangkaian dari peresmian Paguyuban Masyarakat Cinta Leluhur Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin.

Paguyuban tersebut beranggota warga Ketapang yang memu tuskan tidak menjual rumah dan tanahnya sekalipun terendam lumpur. Padahal, Desa Ketapang termasuk salah satu desa yang pembayaran ganti ruginya berjalan lancar karena ditanggung pemerintah pusat, bukan Lapindo.

Pembentukan paguyuban itu berawal dari keresahan warga mengetahui banyaknya rumah di Desa Ketapang yang dibeli pemerintah. Mereka khawatir warisan leluhur punah.

”Karena itu, kami mendirikan organisasi ini untuk mewadahi warga yang tidak menjual tanahnya sekaligus menjaga warisan leluhur,” jelas Miftahul Huda, ketua Paguyuban Masyarakat Cinta Leluhur.

Ada dua warisan leluhur yang dia maksud. Pertama, kesenian religi seperti samroh dan terbang yang digeluti remaja desa tersebut. Kedua, aset desa seperti masjid, gereja, dan musala.

”Jika tidak diles tarikan, pasti aset itu punah,” kata Kadarisman Musa, pembina Paguyuban Masyarakat Cinta Leluhur. Paguyuban tersebut beranggota 150 kepala keluarga (KK).

Jumlah itu berkurang jauh jika dibandingkan dengan total KK di Ke tapang sebelum bencana lumpur melanda, yakni 3.500 KK. Kini mayoritas memilih meninggalkan desa untuk mencari tempat tinggal baru.

Huda mengatakan, warga yang menjual tanahnya itu bukan tidak mau tinggal lagi di Ketapang, tetapi karena kebutuhan uang dan teror tanggul jebol.

”Sebab, luapan lumpur tidak pernah berhenti,” ujarnya. Menurut Huda, tidak serta-merta warga desa Ketapang bisa masuk paguyuban. Mereka diberi waktu untuk berpikir dengan keluarga masing-masing terlebih dahulu. Apakah akan menjual tanah mereka kepada negara atau bertahan.

”Agar mereka kelak tidak menyesal dengan keputusan yang diambil,” lanjutnya. Kadarisman mengatakan, ke depan ada beberapa program yang dijalankan paguyuban.

Misalnya, memberikan pelatihan keterampilan memasak atau kerajinan tangan kepada warga. Rencananya, paguyuban menggandeng Pemkab Sidoarjo. Hal itu dilakukan agar warga tetap tinggal di Ketapang. (c7/oni)

Tagged

bagikan artikel ini

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Arsip Berita

December 2014
M T W T F S S
« Nov    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Subscribe

ingin mengikuti berita dari kami?

Arekpulsa.com

Twitter @infosda

Instagram

Prakiraan Cuaca

Current conditions for Sidoarjo as of Sat, 20 Dec 2014 8:00 am WIT

Haze

30°

High: 32° Low: 24°

Haze

Feels like: 30 °C

Barometer: 982.05 mb and rising

Humidity: 70%

Visibility: 5 km

Dewpoint: 24 °C

Wind: 1.61 km/h

Sunrise: 5:10 am

Sunset: 5:43 pm

Powered by Yahoo! Weather

Jadwal Adzan Sidoarjo

Waktu sholat untuk Sidoarjo, Indonesia.

Kurs Mata Uang Asing

Download Android Apps


versi: 1.0
min OS: 4.1 Jelly Bean+